Terjadinya ketegangan diakibatkan adanya perbedaan cara pandang terhadap teks atau nas (Al-Qur’an) sudah kerap terjadi baik pada masa lalu maupun pada dewasa ini, bahkan akhir-akhir ini ketegangan yang diakibatkan adanya perbedaan cara pandang dalam menafsirkan  teks atau nas dalam hal ini adalah al-Qur’an menemui titik klimaksnya.

Umat Islam yang seyogianya bersaudara dan toleran menjadi sebaliknya, bahkan karena perbedaan penafsiran dijadikan alasan untuk saling mencaci maki bahkan mengklaim akan kebenaran tafsiran yang difahaminya. Tak ayal media sosial kita dipenuhi dengan saling hujat dan beradu argumen yang saling menjatuhkan tidak dapat di elakan lagi.

Wajah Islam yang seyogianya dipahami dengan Syamil atau Kafah dalam pengertian Islam yang meliputi aspek aqidah, syariah dan akhlak kini dipahami secara kaku dan eklusif, seolah-olah teks tidak menerima adanya opsi lain atau cara pandang lain dalam memahami teks, teks hanya berbicara hukum semata atau aspek yuridisnya sehingga semangat kaarifan atau akhlak dalam Islam yang menjadi misi utama diturunkannya Islam itu sendiri justru terlupakan.

Sebagaimana rasulullah bersabda dalam haditsnya ‘Innama Buitstu Liutammima Makarmal Akhlaq’ sesungguhnya misi utama diutusnya aku (muhammad) untuk menyempurnakan akhlaq.

Dalam sumber literasi Islam pada masa rasulullah saw.  Ada beberapa kisah dimana para sahabat nabi memiliki perbedaan dalam pengertian satu ayat dalam Al-Qur’an dan langsung ditanyakan kepada Rasulullah sebagai pemegang otoriti tafsir kalamullah, seperti kasus pengertian kata Hinin ketika kalimat ini ditanyakan kepada para sahabat setiap sahabat memiliki pengertian yang berbeda-beda.

Lantas sahabat yang merasa bingung ini mengadukan hal tersebut kepada rasulullah dan beliau menjawabnya bahwa semua yang disampaikan oleh sahabatnya itu benar semuanya, sehingga Rasulullah mengeluarkan hadits yang berbunyi;  ashaby kanujum ainama iqtaditum ihtadaitum.

Dalam kisah lain, pernah seorang yahudi mengadu kepada Khalifah Umar bin Khotob terkait kebijakan salah satu Gubernur Mesir yaitu Amar Bin Ash akan menggusur rumah si Yahudi karena akan dibangun Masjid namun orang yahudi tersebut enggan menjual tanahnya.

Setelah sampainya si yahudi mencari sang khalifah yang di temuinya dengan pakaian yang lusuh yang tidak nampak kekhalifaahnya, yahudi pun mengadu dan menceritakan perihal maksud kedatangannya, Umar memerintahkan orang yahudi tersebut untuk mencari tulang onta setelah mendapatkannya Umar hanya mengeluarkan pedangnya dan membuat guratan lurus di atas tulang tersebut.

Khalifah Umar memeritahkan untuk memberikan tulang tersebut kepada Gubernurnya, setelah tulang tersebut di sampaikan kepada Amar bin Ash alangkah hairannya sang Gubernur melihat tulang yang bergaris lurus tersebut akhirnya Gubernur membatalkan rencananya untuk pembangunan masjid Orang Yahudi pun merasa hairan kenapa ini boleh terjadi apa artinya guratan lurus dalam tulang.

Sang Gubernur pun menjelaskan, itu mengisyaratkan bahwa Amar bin Ash diminta jangan zalim terhadap penduduknya dan berlaku adil seperti garis yang lurus. Mendengar penjelasan itu orang yahudi dengan secara sepontan menyatakan Ke Islamannya bahkan ia merelakan tanahnya.

Inilah kekuatan Islam yang sebenarnya yang bertumpu kepada akhlak atau dapat dikatakan berpegang kepada kearifan. Adalah Islam Nusantara yang dibawa oleh para ulama tasawuf atau ulama tariqoh yang mampu membawa esensi Islam yang bertumpu pada akhlak yang di ajarkan oleh Rasulullah.

Dengan esensi inilah Islam dapat diterima oleh masyarakat nusantara pada perkembangan Islam priode awal masuknya Islam Nusantara bukanlah ajaran baru atau sekte baru dalam Islam walau pada awal kemunculannya mengalami banyak penentangan terhadap istilah Islam Nusantara dengan justifikasi sebagai Islam jadi-jadian bahkan sebagai Islam sesat.

Dari nash atau teks otoritatif (Al-Qur’an, Hadits dan Ijma Ulama) inilah melahirkan kearifan-kearifan yang menjadi ciri khas dari Islam Indonesia atau Islam Nusantara yang tidak ditemukan di mana pun seperti Aswaja atau ahlussunah wal Jammah yang dulunya diterjemahkan dalam pemahaman keberagamaan dalam segi ubudiyah dalam Islam Nusantara ini sudah berkembang tidak lagi hanya aspek ubudiyah tapi sudah menjadi manhaj al-Fikr cara pandang keagamaan yang berpegang kepada aspek Al-adalah keadilan, Wasatiyah Moderasi, Tawajuniyah Tenggangrasa dan Tasamuh Toleransi.

Dari konsepsi inilah paling tidak penulis melihat ada dua kearifan mendasar dari berbagai kearifan  yang lahir dari Islam Nusantara. Satu, Kearifan Islam Nusantara telah  berhasil menjadikan budaya sebagai inprastruktur untuk menginternalisasi agama kepada masyarakat nusantara, cara ini yang dilakukan oleh para wali, atau para penyebar Islam pada awal mula masuknya untuk mengIslamkan masyarakat nusantara, para wali atau penyebar Islam memasukan nilai-nilai Islam tanpa harus mempertentangkan Islam dengan kebudayaan itu sendiri namun mereka mengakomodir kebudayaan atau tradisi masyarakat nusantara namun sedikit demi sedikit secara esensi tradisi dimasukan nilai-nilai Islam.

Kedua, Kearifan yang lahir dari Islam Nusantara adalah berhasilnya para agen Islam Nusantara dalam hal ini para ulama menjadikan nilai-nilai ke Islaman sebagai landasan untuk terciptanya  nation state , tanpa harus membenturkan atau mempertentangkan antara negara dan agama tapi justru sebaliknya negara dan agama saling mengisi, untuk menciptakan nilai-niali universal seperti keadilan, kesetaraan, toleransi dan Moderasi.

Terakhir dalam tulisan ini penulis ingin mengutip ayat dari surah almujadalah yang artinya: (Serulah umatmu wahai Muhammad Kepada Jalan Tuhanmu dengan hikmah (kearifan) dan nasihat yang baik dan berilah argumen dengan cara cara yang terbaik ) Dari ayat ini sudah sangat jelas bahwa Kearifan menjadikan landasan yang sangat mendasar dalam Islam untuk diaktualisasikan dalam kehidupan umat muslim.

Dipetik:Qureta.com

Memaknai Kearifan Islam Nusantara